Puisi 8 : Cinta ada dimana-mana

Puisi 8

Sesaat mata nya pun terbuka. Melihat dengan jelas apa yang terjadi di luar jendela kamar nya. Mentari baru sedikit menampakkan diri membisikkan bahwa hari sudah berganti. Bersama sejuknya udara yang ia hirup, ada aroma yang lain dari biasa nya pagi ini. Sesuatu yang mengingatkan nya akan masa kecil nya. Sesekali ia memejamkan mati, menikmati kenangan itu. Memberi begitu banyak ketenangan yang tidak ia sangka sebelumnya.

“Fariiiisss…!?! Ayo segera turun….!?” Suara Ibu memanggil.

Sedikit terkejut dengan suara yang memanggil itu, tapi tetap saja panggilan itu secara otomatis menggerakkan badannya untuk bangkit dari tempat tidur nya dan segera menjawab dengan datar, “Iya, bu…”

Perlahan Faris menuruni tangga dan tersadar aroma yang tidak biasa itu semakin kuat. Tampak Ibu yang sedang memakai celemek menyiapkan meja makan, “Ayo, sarapan…?! Kata Ibu sambil tersenyum.

“Ibu, masak…?” Tanya Faris.

“Yups…! Kenapa ? Sudah lama ya Ibu enggak masak ? Tanya ibu lagi tanpa melihat Faris dan masih sibuk memindah masakan yang di atas kompor ke meja makan.

“Iya…” Jawab Faris datar.

Ibu hanya tersenyum dan mulai melepas celemek nya, “Ayo, duduk. Kita sarapan bareng.”

“Ini agak berat sih, bukan menu sarapan. Maaf ya, tapi ini masakan yang kamu suka banget waktu kecil. Kare ayam.”

“Iya bu. Aku sudah mencium aroma nya di kamar tadi. Terima kasih”

Ibu nya kembali tersenyum, “Maaf ya, Ibu jarang memasak buat mu…”

“Iya, Bu.” Jawaban yang masih datar. Faris mengambil nasi dan kare ayam ke dalam piring nya, “Aku makan ya Bu…”

Mereka pun makan bersama di suatu minggu pagi. Aktifitas yang sudah lama tidak mereka lakukan bersama. Tampak canggung, namun mereka merasakan sesuatu yang pernah di alami dulu dalam kebahagiaan.

“Ibu… hari ini ada acara apa ?” Faris pelan bertanya.
“Enggak, Enggak ada acara apa-apa. Kenapa ?” Tanya Ibu.

“Ayo, kita jalan-jalan aja nanti siang ke mall. Sudah lama.” Ajak Faris.

Ibu tampak terkejut sekaligus bahagia, “Oke, siap…! Kamu yang traktir kan…? He he. Ya udah makan dulu aja yang banyak ya. Sesekali sarapan banyak kan gak apa-apa.”

“Iya, Bu.” Jawab Faris, yang tidak memungkiri kalau dia bahagia. Masakan Ibunya mengembalikan kebahagiaan masa kecil nya. Memberi nya rasa yang sudah lama tidak ia rasakan, kerinduan yang sudah lama mengharap untuk bertemu dan sejenak mengobrol dari hati ke hati.

Usai sarapan, Faris membereskan meja makan lalu mencuci piring, sedangkan Ibu nya menghangatkan kembali masakan nya selebih nya menaruh di kulkas. Dalam keheningan obrolan itu, tiba-tiba Faris bertanya, “Bu, mulai besok, apa bisa Ibu tidak kerja dulu selama tiga hari saja ?”

“Lho, kenapa, Ris. Ada apa ?” Tanya Ibu penasaran, menghentikan aktifitas nya.

“Menjenguk Ayah…” ucap Faris.

 

***

 

Tanpa pikir panjang, ajakan Faris untuk menjenguk Ayahnya di setujui oleh sang Ibu. Meski tahu mengajukan liburan secara mendadak itu juga bukan perkara mudah. Namun, besarnya keinginan untuk dapat melakukan sesuatu bersama lagi setelah sekian lama itu lebih penting, maka yang lain akan terasa lebih mudah untuk di hadapi.

Esok nya, mereka ikut dalam penerbangan pertama, seolah tidak ingin menyia-nyiakan hari. Rencana kunjungan ini akan menjadi kejutan bagi Ayah nya yang sedang bekerja seperti biasa di hari Senin.

Beberapa jam berlalu. Kini, Faris bersama Ibu nya sudah berada di kawasan kerja sang Ayah. Mereka menunggu di customer service.

Pintu terbuka. Tampak seorang pria berperawakan tinggi besar dengan seragam kerja nya. Kacamata nya yang bergaya jaman dulu tidak menghalangi pancaran kedua mata nya ketika melihat kami berdua sedang menjenguknya. Berada di depan nya saat ini. Pandangan yang menyiratkan ketidakpercayaan, kebahagiaan, dan kerinduan bercampur menjadi satu.

Saat itu Faris melihat senyum indah di wajah ibunya. Seketika itu juga ia memeluk Ayah. Tiba-tiba Faris berpikir, mungkin ini adalah hal yang selama ini ingin dilakukan oleh ibu nya namun baru hari ini bisa di lakukan nya. Betapa ruangan itu penuh dengan cinta dan kerinduan mereka.

Berdua, Ayah dan Ibu memandang bersamaan ke arah Faris.

Ia tiba-tiba saja agak salah tingkah dan hanya terucap, “ada yang ingin memelukku…?”

Mereka bertiga pun berpelukan bersama. Tanpa kata, hanya ada cinta dan tentu saja, rindu.

 

***

 

“Eh, Yah…?! tau gak kalau sebenarnya ini semua usul nya si Faris lho.” Katanya Ibu sambil memegang lengan sang Ayah yang sedang menikmati makan malam di sebuah restoran.

“Oh, ya ? Makasih ya Ris. Ini semua sangat berarti buat Ayah.” Sambil memandang Faris yang juga sedang makan di hadapan nya.

“Iya, Yah. Sama-sama. Aku rasa semua ingin menjenguk Ayah.” Faris tersenyum sambil memandang Ibu yang tersipu malu.

Mereka bertiga saling bercerita dan bercanda tawa bersama.

Kali ini Faris merasakan cinta yang ada dimana-mana, kau hanya perlu menghargai tiap momen sekecil apa pun di sekitar mu. Ada sesuatu yang kosong dalam hati nya telah terisi dengan cinta-cinta ini. Dia teringat Jenny. Ada keinginan untuk memberi kabar atau sekedar mengucapkan terima kasih atas semua saran-saran nya.

Faris mengambil sejenak ponsel nya. Mengirim pesan ke Jenny.
“Hei, Jen. Aku sekarang sedang liburan bersama kedua orang tua ku. Ternyata cinta ada dimana-mana. Terima kasih buat saran nya.”
Pesan terkirim.

Tidak dipungkiri, dia beberapa saat menunggu balasan dari Jenny, tapi tak kunjung datang. Faris mencoba mengerti bahwa dia harus menerima hal itu, karena mungkin itu akibat dari perbuatan nya yang kadang tidak seharus nya dalam memperlakukan orang lain. Terutama dengan Jenny. Dia mencoba untuk tidak memikirkan nya hingga bisa merusak suasana.

Kembali ia melihat kedua orang tua nya yang sedang bercengkrama, dan hanya ingin lebih baik lagi dalam membahagiakan mereka. Itu adalah cinta versi baru menurut faris yang ia mengerti saat ini.

 

***

 

Dikamar hotel, Faris merenungi hari ini. Ia sangat bahagia. Tidak terasa ini malam terakhir ia melakukan perjalanan bersama Ibu nya untuk menjenguk sang Ayah. Besok pagi, ia akan pulang ikut penerbangan pertama. Ia masih teringat pertanyaan Ibu nya tadi siang, “Ris, kamu sudah punya pacar ?”
Itu adalah pertanyaan yang cukup pribadi bagi Faris karena tidak terbiasa, makanya dia cukup terkejut saat Ibu nya menanyakan hal itu. “Belum, Bu..” Hanya itu jawab Faris.

Dengan apa yang terjadi saat ini, seperti nya belum merasa perlu untuk berpikir tentang pacar, pasangan atau apalah istilah nya. Faris masih ingin menikmati momen ini.

Selama cutinya, ia sama sekali tidak terkoneksi internet seperti saran dari Jenny sebelumnya. Dan itu ternyata mengasyikkan. Banyak hal yang bisa dipikirkan dan diciptakan seperti banyak nya foto-foto yang di hasilkan dari kamera nya selama perjalanan ini. Ia melihat nya satu-persatu dan sesekali mengagumi hasil pengambilan foto nya sendiri.

Ponsel nya berbunyi. Faris melihat nya, balasan dari Jenny.
“Senang mendengarnya. Aku berharap segera bertemu dengan dirimu yang baru. Ya, yang benar-benar baru :).”

Aku hanya ingin berlama-lama
Dalam balutan rindu dan cinta
Mungkin selama ini aku lengah
Tanpa sadar aku tidak merasa

Cinta telah ada dimana-mana
Sampai tidak menyadarinya
Lelah kini sudah tidak terasa
Berganti dengan kebahagiaan

Sebuah proses dalam perjalanan
Menemukan sesuatu yang hilang
Memenuhi kembali ruang hampa
Membawa banyak hal baru disana

 

 

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *