Jadi Bapak, Si Muka Bantal

“Bapak jangan tidur…!” Teriak Nyanya pada ku yang sudah tak tahan lagi menahan rasa kantuk meskipun jam dinding masih menunjukkan sekitar jam setengah sembilan malam dan Goldie and Bear masih baru saja mulai di tayangkan di Disney Junior Channel.

Dia ada di sampingku. Maksud hati menemani nya sambil tiduran di kasur portable sambil menonton televisi, tapi apa daya seolah ada hawa jahat yang membuat rasa nikmat ketika mata ini di tutup untuk sejenak saja tertiur. Dan akhir nya, tidur.

Rentang waktu antara kepala ini menempel di bantal lalu tertidur adalah sekitar kurang dari 7 menit.

Seringkali aku mengalami hal itu dan mungkin bisa jadi kebiasaan yang istriku sendiri sudah memberikan kategori “Wajar tanpa syarat”, karena sudah sangat seringnya melakukan hal itu.

“Oke, nanti temenin aku ngetik sebentar ya pas anak-anak udah pada tidur.” Ajak Istri yang langsung aku jawab dengan sangat jelas.

“Siap, kamu ngetik, aku liat Game Of Thrones yah…!”

Kenyataan nya…. Bablas !

Aku ketiduran pas menemani Nyanya melihat Youtube. Esoknya di cuek in istri. Karena kami sama-sama tidur akhirnya, istri tidak jadi mengerjakan tugas nya dan aku telat menonton Game Of Thrones.

Mungkin kali ini Nyanya sudah capek dengan saya dengan kecepatan tidur yang diluar prediksi ketika menyentuh bantal, atau justru muka saya sudah mirip dengan bantal. Wajah nya Nyanya tepat di muka ku. Kira-kira sekitar tiga puluh sentimeter jarak nya. Aku mulai merem melek merem melek. Nyanya menatapku sambil tersenyum dengan “mbetik” nya lalu secara tiba-tiba jari telunjuk tangan kiri nya dimasukkan ke lubang hidungku.

Kaget. Serasa ada sesuatu yang memasuki daerah privasi tanpa izin. Geli karena Nyanya setelah memasukkan jari nya ke lubang hidungku secepat itu pula mengeluarkan nya, lalu memasukkan lagi ke lubang hidung satu nya secara bergantian.

“Nyanya… ndak boleh ah gitu…”

Tetap memasukkan jari nya ke lubang hidungku.

“Bapak ngantuk, Nyanya….”

Berganti ke lubang hidung yang satu nya.

“Ya Alloh, Nyanya…. ndak boleh nak… “

Aku merintih sama Nyanya, tapi tubuh ini sudah tidak berdaya karena di penuhi rasa kantuk teng teramat berat. Hanya bisa sesekali melihat Nyanya dengan senyumnya.

Hingga akhirnya Nyanya menghentikan serangan nya, mungkin dia merasa sudah tidak ada tantangan nya lagi, Bapakku terlalu ngantuk. Ia lalu ke kamar menemui Bunda nya dan meninggalkan ku sendiri bersama Goldie and Bear.

Kau tahu kawan, bagi seorang Bapak seperti aku ini, waktu bersama anak-anak adalah ketika malam sepulang kerja dan pagi sebelum berangkat kerja. Iya, hanya itu. Cara agar tetap stay in touch with them adalah dengan membuat efektif waktu yang cukup singkat itu.

Namun, terkadang ketika bertemu dengan bantal menjadi sesuatu hal yang perlu di hindari, karena benar-benar akan membuatku tertidur. Sempat istri mengeluh ketika pagi, “masa wajah nempel di bantal aja udah langsung ngorok…!”

Karena aku merasa waktu bersama anak-anak ya cuma itu saja, jadi tertidur lebih dulu daripada mereka merupakan suatu kerugian buatku.

Aku bisa saja melewatkan banyak hal yang di butuhkan nya seperti bercerita, bermain bersama, memberi penghargaan pada nya ketika ia telah melakukan hal yang luar biasa hari itu, menyampaikan apa yang tidak aku suka agar dia tahu tanpa berharap dia mengerti karena hal itu bisa saja dilakukan nanti ketika dia dewasa.

Salah satu cara agar tidak tertidur adalah dengan terus membuat badan ini bergerak, entah ikut bermain bersama nya, bersih-bersih, joget bersama, dan duduk ketika melihat televisi. Jauhkan benar-benar bantal dari muka ku ini.

Hingga aku bisa melihat nya mengantuk lalu tertidur di pangkuan ku. Proses itu yang aku suka. Lalu menggendong nya ke kamar, menyelimuti nya, dan mengecup kening nya sambil mendoakan agar ia menjadi orang yang bisa bermanfaat baik buat banyak orang nantinya. Amin.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *