Menjadi Sederhana

Dalam perkembangannya kadang kita tenggelam dan terbiasa pada cara-cara yang ribet yang kita anggap sudah sederhana.

Misal nih ya, banyak password yang harus di ingat. Tulisan yang ada di banyak perangkat (ponsel, laptop, dekstop). Uang yang ada di berbagai rekening, yang tanpa sadar di gerus biaya administrasi per bulannya. Itu masih contoh kecil yang terjadi padaku.

Lalu kayak kebalikan dari teknologi yang memudahkan pekerjaan manusia. Terlalu banyak pilihan justru membuat jengah. Usaha buat milih ini milih itu ternyata menghabiskan waktu. Lalu tiba-tiba saja bingung. Gak jadi.

Seperti pada tulisanku sebelumnya, bikin blog ini pun pas di awal, lamanya bukan mikir apa kontennya, tapi justru mikir gimana tampilannya. Berpuluh-puluh bahkan kayaknya udah ratusan deh, aku coba tema tampilan ini belum ada yang cocok. Berubah terus. Pakai yang ini, ga ada fitur yang itu. Begitu seterusnya. Dan akhirnya capek. Di tinggal begitu saja.

Pada akhirnya, aku perlu menjadi lebih sederhana.

Yang aku inginkan itu hanya bermusik, menulis, dan podcast. Udah itu aja. Kenapa kok susah amat yak. Balik lagi, aku merasa kurang puas karena tampilannya. Kurang puas apa kata orang nanti pas lihat web blog ku cuma gitu aja. Nah, ternyata ini masalahnya.

Pada satu titik, aku memutuskan ga terlalu peduli dengan semua itu. Masa bodoh dengan apa kata orang nantinya. Aku hanya perlu memperhatikan apa yang perlu di perhatikan. Diantaranya adalah kepuasanku dalam menulis, bermusik, nge-podcast. Berkarya kalau aku boleh bilang.

Dalam proses blog ini, akhirnya aku hapus aplikasi di ponsel. Data yang di simpan terpusat di laptop, yang itupun harus bisa di backup di cloud. Memproduksi musik dan podcast dari laptop, sehingga ga perlu terlalu mikirin storage lagi. Ide-ide semua tertampung di ponsel yang bisa di link kan ke laptop.

Dan sekarang aku bisa mulai mikir buat proses kreatif nya saja. Karena ini semua tentang kepuasan. Menikmati prosesnya.

Menjadi sederhana itu ga se-sederhana yang kita pikirkan ternyata. Apalagi ketika kita belum menyadari apa yang terjadi saat ini masih ribet dan menyusahkan.

Aku mulai belajar untuk bisa di terapkan di urusan yang lain. Gini ya, ketika sudah mulai simpel, itu bisa memberikan kita ruang dan waktu yang lebih untuk memikiran hal lain yang sebelumnya ga sempat kita pikirkan.

Semoga kita semua bisa menjadi lebih sederhana, dalam bersikap, dalam menjalani hidup, dalam menikmati setiap prosesnya. Mari kita bertumbuh bersama.

Salam,
Fahrur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *