Menyerah Sebagai Golongan Putih

Hari ini aku telah menyerah mempertahankan diri sebagai golongan putih. Akhirnya “nyoblos” juga.

Beberapa bulan yang lalu sampai beberapa menit yang lalu, belum jelas siapa yang bakal aku pilih. Semua tampak buram di tengah hiruk pikuk derasnya arus informasi. Bersliweran di dunia maya. Terus, apa yang membuatku akhirnya menyerah ?

Lama aku berdiskusi dengan istri. Dia yang sudah dari awal tahu yang bakal di pilih toh akhirnya ragu juga. Bingung dan ragu. Apalagi setelah mengikuti debat calon presiden beberapa kali. Malah makin bingung. Bukannya bagus semua, kebalikannya.

Kalian tahu sendiri, di media sosial banyak sekali saling hujat dan menghina. Keduanya seperti itu. Seakan melupakan bahwa pemilu kali ini tidak hanya soal presiden, tapi wakil rakyat yang duduk di dewan. Sebenarnya itu juga penting. Sebagai perwakilan terdekat kita ini yang sebagai rakyat biasa. Yang masih terbiasa antri.

Entahlah, presiden saja masih bingung apalagi wakil rakyat yang banyak sekali yang harus di pilih. Sempat mencari info detil tentang profil calon legeslatif. Susah sekali. Meski sudah googling dengan berbagai keywords. Mungkin aku yang masih “bloon” tentang mesin pencari atau kah memang tidak di sediakan data profil singkat mereka. Kembali lagi. Entahlah.

Yang jelas aku harus memilih presiden dulu. Aku memikirkan tentang program kerja. Yang paling sesuai dengan apa yang aku butuhkan. Ternyata salah satu ada yang merencanakan. Paling tidak mewacanakan dulu. Baiklah, sepertinya itu yang akan aku pilih. Itulah kalimat yang terlintas di benakku ketika antri untuk “nyoblos”

Aku ditemani kakak di dalam bilik. Dia yang tahu siapa saja yang aku pilih. Malah sempat berbisik ketika lembar legeslatif di coblos, “lho pak, memangnya boleh di coblos dua kali ?”

“Nah, kau tidak tahu rasanya betapa galaunya bapakmu, ketika tidak tahu harus memilih caleg yang mana” ujarku dalam hati.

Sesaat usai melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yang baik. Sekeluarga berjalan santai ke Alfamart terdekat. Hanya untuk beli es krim dan selfie kepada untuk ditunjukkan pada khalayak dunia maya. Aku hanya berharap setelah ini sudah tidak ada kegaduhan lagi.

Akhirnya menjatuhkan pilihan setelah bertahan untuk tidak memilih.

Ini adalah bentuk ikhtiar. Menyuarakan. Perkara nanti siapa yang jadi. Tetap kerja, kurangi mie instant, banyak olahraga, banyak baca dan jangan lupa kritisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *