Page IV I’m Alright…!

Fariz melongok jendela besar yang ada di balkon depan kamarnya. Jendela yang tidak mempunyai kaca dan hanya teralis-teralis besi sebagai batasan antara pikirannya dengan dunia luar. Beberapa jemarinya menyentuh teralis itu, ia merasakan dinginnya tapi tak sedingin hatinya kala itu. Angin pagi berhembus, menyibakkan rambutnya yang kian gondrong tak terurus. Seharusnya udara pagi itu menyegarkan, tapi tidak baginya. Ia sudah tak bisa merasakan lagi kesegaran itu yang ada tinggal suara-suara canda tawa yang meraung-raung mengingatkannya akan masa lalu.

Dia masih berdiri. Tanpa kata-kata. Membisu. Menerawang.
“kalau saja ada yang bisa membaca pikiranku dengan segala simbol-simbolnya yang kukira adalah suatu hal yang paling sederhana yang pernah ada menjelma menjadi hal yang rumit di luar dugaanku…maka tolong terjemahkanlah untukku…karena aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat ini…” lirih sangat lirih ia mengatakannya melalui bibirnya yang mulai mengering menahan dinginnya pagi itu.

Imajinasinya terbang bebas menjauh dan semakin menjauh setelah ia membaca pesan singkat dari seseorang yang sangat disayanginya. Kabar baik yang menyesakkan dada Fariz.

Ini tentang perasaan. Murni perasaan. Suatu rasa yang tidak pernah diduga sebelumnya mengalir deras memenuhi setiap pembuluh darah. Dengan gagah. Tanpa lelah. Menembus hingga ke jantung, memenuhi hati dan pikiran. Rasa itu adalah sayang. Rasa yang kini bercampur dengan penyesalan. Begitu pula rasa cemburu tiba-tiba saja melesat dari palung hati dengan kecepatan tak terkira. Ketiganya bertemu. Melebur. Menghancurkan semua.

Telepon selular itu di genggamnya erat. Perlahan ia membalikkan badannya, bersandar di teralis jendela. Menunduk. Menangis. Tanpa suara. Hanya pundaknya sesekali bergerak naik turun tidak beraturan, tidak kuasa menahan air mata yang memaksa untuk terus mengalir.

Matahari mulai mengintip dari balik bukit. Perlahan menampakkan senyumnya. Menerpa punggung Fariz. Hangat. Air mata yang mulai mengering. Mulai tenang. Kicau burung bersahut-sahutan seolah ingin membangunkan Fariz dalam lamunannya. Telepon seluler itu masih di genggamannya. Tersenyum tipis.
“..Ahh..Aku ternyata masih disini…?!”
“…dan ternyata aku masih bisa menangis…?!”
“…hehehe….ternyata hal ini benar-benar sakit…?”
Menghela nafas sambil merapikan rambutnya.
“..Allah pasti tahu apa yang aku rasakan…”
“..heheh..sakit Ya Allah..sakit…?!heheh…”
“..tapi aku yakin Kau telah menyiapkan yang lain untukku…”
“..seseorang yang lebih baik dan yang ku butuhkan…”
“..Ahh..biarlah semua ini terjadi…”
“…yang pasti aku akan datang ntar dengan penampilan terbaikku…”

Fariz mulai melangkahkan kaki menuju kamarnya. Menaruh telepon selulernya di meja. Mengambil kemejanya. Mengancingkan. Melipat lengan kemejanya. Bercermin, membersihkan sisa-sisa wajah kusutnya seolah tak mau orang lain melihatnya dalam keadaan bersedih. “..I’m Alright..!” bisiknya dalam keheningan.

Suara sang Ibu memanggilnya untuk keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi. Ia bergegas untuk memenuhi panggilan itu. Tepat di penghujung pintu kamar ia teringat akan telepon selulernya. Ia menoleh sejenak ke arah meja. Tersenyum dan meneruskan langkahnya.

Telepon seluler itu tetap tergeletak di meja. Kaku dan membisu. Di layar tertulis massage from Via :
“Riz, hari minggu ntar datang yah ke pernikahanku…akadnya di mesjid sebelah rumahku jam 8 pagi…awas klo ga datang…!mohon doanya yah…thanks 😉 “

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *