Perkembangan Anak vs Teknologi

Kekhawatiran orang tua, terutama bapak yang punya anak perempuan adalah banyaknya konten-konten negatif yang ada di internet. Sayangnya, internet sudah tidak bisa di pisahkan lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dekat dalam media apa pun, seperti ponsel, komputer, televisi, sampai jam tangan. Semua bisa terkoneksi internet.

Kemarin malam, istri menunjukkan video anak kecil seusia anak pertama saya sekitar 4-5 tahunan duduk di samping orang tua nya sedang pegang ponsel, asyik sendiri. Miris nya yang di tonton adalah video porno, parah nya lagi kedua orang tua nya pada tidak sadar. Apa ini ? Apa yang terjadi ?

Saya juga pernah hadir pengambilan hasil penilaian semester anak. Satu-satunya Bapak, lain nya Ibu nya pada yang datang. Duduk di kursi anak-anak, heran nya cukup kuat menahan berat badan saya yang hampir 1 kuintal ini layaknya karungan beras. Saya lihat ada Ibu duduk di depan bersama anak nya yang mulai bosan menunggu panggilan sang Guru. Anak nya minta ponsel Ibu nya buat lihat Youtube. Sang Ibu memberikan nya.

Anak nya dengan “fasih” memilih video yang mau di lihat. Sangking fasih nya, saya sempat terlihat ada tontonan orang dewasa pada list video yang di scroll. Saya beranikan diri bertanya ke Ibu nya.

“wah, anaknya suka lihat youtube ya bu, pinter lagi milih-milih nya”, kalimat pembuka saya. Sok basa-basi sih, tapi ini perlu dorongan yang kuat bagi seorang introvert seperti saya.

“Iya, pak, malah lebih pinter dari pada saya main Youtube nya. Biasanya gini sambil minum susu sampe tidur”, Kata Ibu nya dengan nada bangga.

“Wah iya ya. Oh iya bu. Apa Youtube nya sudah di setting parental control ?”, tanya saya memastikan.

“Apa itu pak ? saya ndak gitu ngerti yang begitu-begitu ?”, Jawab sang Ibu.

Baik. Pengaturan parental control pun masih belum menjamin konten dewasa tidak akan mampir ke dalam list video di youtube, apalagi tidak di atur.

Sambil menunggu panggilan, saya ajari Ibu itu untuk pengaturan youtube di ponsel nya. Dari sini, saya yakin masih banyak orang tua yang tidak perhatian hal-hal seperti ini. Atau mungkin tidak peduli ? who knows ?

Kawan saya pernah bilang, “Jaman sekarang orang tua harus sama-sama belajar nya mengikuti perkembangan teknologi, jangan sampai kita mau login komputer kita sendiri malah tidak bisa, harus masuk ke Guest dulu karena user nya sudah di kuasai sama anak.”

Saya sendiri perlu perhatian lebih soal ini, karena beberapa alasan. Pertama, saya juga pernah jadi “nakal”. Nasehat dari pak Supir kantor saya pas perjalanan kerja, “ya gak apa-apa, Pak. Artinya kan sekarang udah jadi orang baik, daripada pernah jadi baik, kan sekarang nakal jadi nya”. Baiklah, bisa diterima pernyataan itu untuk menyejukkan hati.

Kedua, saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh bersama hal-hal yang negatif. Itu akan di ingat selama hidup nya dan tidak ada manfaat nya sama sekali. Saya bisa nulis seperti ini karena sudah pengalaman. Kembali tentang “nakal” tadi. 🙂

Nah, beberapa perhatian saya adalah seperti ini.

  • Jangan pernah simpan apa pun yang mengandung pornografi ke dalam ponsel. Baik gambar atau video bahkan suara. Kalaupun ada, bisa di password atau di hide, agar tidak mudah di temukan terutama oleh anak-anak kita. Kalau istri yang menemukan, yah, artinya sudah nasib… nasib… ?!
  • Dampingi selalu ketika sedang menggunakan internet, youtube atau sejenis nya. Batasi durasi nya. Anak-anak adalah sama manusia nya dengan kita, bukan robot. Dia akan mengerti ketika kita bisa ngomong baik-baik dengan nya.
  • Ajarkan selalu tentang rasa malu. Apa yang baik dan tidak baik untuk di lihat atau di lakukan. Dari sini, dia akan sedikit demi sedikit bisa memilah-milah mana yang baik untuk di lihat. Awalnya bakal banyak bertanya, apa ini boleh, apa itu boleh. Nah, itu fungsinya mendampingi anak. Bukan malah sibuk balas chat dengan ponsel kita sendiri.
  • Ajak untuk menceritakan kembali apa yang baru di lihat nya, agar kita bisa beri tahu apa yang seharusnya dilakukan. Ini yang biasa saya lakukan. Ketika saya harus mengerjakan sesuatu dan tidak ada di sampingnya pas main youtube. Saya biasa memanggil nya agar tidak terlalu fokus sama apa yang di lihat nya lalu bertanya, “kak, lagi lihat apa ?” atau “apa sih itu, bisa di ceritakan ke Bapak..?”
  • Kembalikan fungsi internet dan kecanggihan teknologi sebagaimana mestinya. Saya selalu mulai berpikir bahwa teknologi itu untuk memberi manfaat bukan sebaliknya. Akhir nya saya biasakan juga bahwa seperti media Youtube itu untuk BELAJAR. Ketika anak saya minta main Youtube, saya langsung tanya, “Kakak, mau belajar apa ? Menari ? Menggambar ?”
  • Matikan televisi, taruh ponsel dan mari kita bermain !. Ini yang paling manjur. Karena pada dasarnya tiap anak sangat suka bermain. Anak saya suka main masak-masak, lari-lari dan sejenis nya. Jadi, setelah magrib biasanya kami langsung matikan tv setting ponsel don’t disturb dan lanjut bermain sama anak. Meski di tengah-tengahnya badan saya sudah capek kerja. But, it’s fun ! Saya selalu berusaha untuk FUN.

Sadar atau tidak, dan ini yang kadang membuat saya trenyuh. Waktu kita bersama anak itu cuma sebentar. Benar, kawan. S E B E N T A R. Tiba-tiba saja sudah besar. Saya pernah membayangkan cuma sekitar 15 tahun atau mungkin kurang. Ketika umur segitu, mereka bakal punya dunia nya sendiri. Kalaupun itu terjadi, saya hanya ingin anak-anak saya selalu merasa punya orang tua yang hebat. Punya Bapak yang super keren.

Dan seperti gambar pada artikel ini, lakukan semua nya dengan cinta, karena keluarga kita berhak untuk mendapatkan itu. Anak kita seperti selembar kertas kosong, tinggal mau kita tulis apa disitu sebagai memori nya kelak. Kalau saya sih, CINTA.

Bagaimana dengan kalian, kawan ?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *