Puisi 9 : Puisi Yang Terakhir

Puisi 9

Roda pesawat akhirnya menyentuh bumi, mengantarkan Faris dan Ibu nya sampai di kampung halaman nya. Perasaan lega menghinggapi mereka berdua. Tidak dipungkiri, se aman dan se nyaman apa pun ketika di pesawat dalam perjalanan jauh tetap saja ada kekhawatiran tersendiri akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Berdua menunggu di tempat pengambilan barang-barang bagasi. Konveyor terus berputar. Mata tetap jeli untuk melihat tas nya sendiri-sendiri. Tas Faris dan Ibu nya di ikat kain warna kuning sebagai tanda agar tidak salah ambil. Akhirnya tas yang di tunggu datang juga.

Mereka berdua jalan berdampingan sambil ngobrol. “Ris…” Ibu memanggil pelan. “Kamu bener belum punya pacar ?” Mengulangi pertanyaan kemarin.

“Apaan sih, Bu…? Faris mengelak.

“Cuma tanya aja kok…?” tambah sang Ibu sambil membenarkan letak tas yang di bawa nya.

“Belum, Bu. Belum punya…?” ungkap Faris pelan dengan tetap memandang ke depan.

Sekilas tampak sosok yang dikenal nya. Tapi ia ragu, mungkin hanya bayangan. Semakin dekat dengan pintu keluar, dan ternyata benar dugaan nya. Jenny.

Sepertinya Jenny telah menemukan Faris dan Ibunya. Ia melambai-lambai memberi tanda.

“Jenny ? Ada apa disini ?” Tanya Faris.

“Menjemput mu” Jawab Jenny enteng.

Seperti tidak percaya dengan jawaban Jenny, Faris bertanya lagi, “Bagaimana kamu tahu kalau aku disini ?”

“Percayalah, Ris. Kamu itu gak se-misterius yang kamu kira selama ini” Jenny memandang serius ke mata Faris, sambil tersenyum.

“Eh, ayo kita jalan ?! Sela sang Ibu. “Kasihan yang mau keluar kalau berhenti disini. Ngobrol nya sambil jalan aja ya ?!”

“Oh iya, Bu, kenalin ini Jenny. Jenny ini Ibuku…” Faris memperkenalkan kedua nya.

“Jenny, Bu.” Sambil mengulurkan tangan nya. Bersalaman.

“Lah, terus ini ?” berusaha menanyakan dengan obrolan sebelumnya tentang pacar. “Eh, iya. Saya Ibu nya Faris.”

“Dia ini temen kerja Bu.” Jawab Faris pelan cenderung berbisik.

Jenny sayup mendengar nya dan lagi-lagi hanya tersenyum.

“Ibu sama Faris saya anter ya ?” Tanya Jenny halus.

“Apa tidak ngerepotin, mbak Jen ?” Tanya Ibu memastikan. Faris hanya diam ditengah obrolan itu.

“Tidak kok, Bu. Sama sekali tidak.” Jawab Jenny sopan.

Faris melihat sosok yang lain pada Jenny. Sangat berbeda dengan Jenny yang di temui nya di kantor yang terkesan cuek, tegas, dan jarang berbicara atau pun sosialisasi. “Entah, apa ini karena ada Ibuku.” Tanya Faris dalam hati.

***

“Masuk dulu, mampir mbak Jen ?” Ajak Ibu sambil menurunkan beberapa tas yang ringan untuk langsung di bawa masuk. “Ris, di ajak tuh si Jenny !” Sambil memandang Faris yang sedang mengeluarkan koper di bagasi mobil.

“Iya, Bu ?!” Balas Faris tanpa melihat Ibu nya. “Jen, mampir dulu ya ?!”

“Iya, Ris.” Ucap Jenny singkat.

***

Di ruang tamu, Faris dan Jenny ngobrol berdua, setelah sang Ibu pamit untuk mandi dan istirahat dulu. Dua buah gelas berisi minuman dingin sudah ada di meja.

“Jadi, sekarang, bagaimana kabar cinta pertama mu ?” Tanya Jenny memulai pembicaraan tentang hal yang lebih personal.

“So far so good. Aman. dia tenang di salah satu sudut hati ku” Sambil mengambil gelas minuman dingin yang ada di hadapan nya.

“Oh, tidak jadi kamu usir biar hilang sama sekali ?” Tanya Jenny lagi.

“Tidak, dia akan jadi kenangan indah tanpa harus dilupakan.” Ungkap Faris.

“Bukankah itu akan bisa membuatmu berkutat pada masalah yang sama lagi ?”

“Mungkin, tapi paling tidak sekarang aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu ku, Jen.”

“Maksud nya ?” Sekarang Jenny yang tampak mulai kehausan.

“Iya, beberapa hari ini aku sempat berpikir bahwa ini murni tentang aku yang melihat dari sudut pandang yang salah terhadap cinta. Oke, katakan lah cinta pertama ku itu. Cinta itu gak salah, Jen, yang salah adalah caraku memperlakukan nya.” Sejenak berhenti seolah mencari kata-kata yang tepat untuk memulai kembali penjelasan nya.

“Tidak seharusnya aku berlarut-larut meratapi nya. Cinta seharusnya justru membuat menjadi lebih baik dengan mengambil sudut pandang yang benar. Aku tidak merasa paling benar, mungkin saja masih salah. Tapi, ketika hal itu membuat aku lebih baik dan menghargai apa yang aku punyai saat ini, seperti orang tua ku, keluarga ku, pekerjaanku, kamu. Aku rasa, aku sudah berada di jalur yang benar. Bahwa cinta itu ada di mana-mana.”

Jenny terdiam sejenak dan mulai berkata, “Oke, sepertinya nama ku ada dalam list yang kamu ucapkan tadi. Terima kasih. Tapi, kalau nantinya kamu memilih sudut pandang yang salah lagi gimana ?”

“Kan ada kamu.” Jawab Faris cepat. “Kenapa sekarang justru kamu yang khawatir”

Jenny tidak bisa menjawab, malah bertanya untuk kesekian kali nya. “Baiklah. Terus, apa yang akan kamu lalukan sekarang ?” Sepertinya apa yang terjadi dengan Faris saat ini memancing rasa penasaran yang tinggi baginya.

“Meneruskan langkah. Apa lagi?” ucap Faris.

“Oke.” Jenny dengan kepala manggut-manggut.

“…Dan membuka hati ini untuk kemungkinan yang baru.” Tambah Faris.

Jenny hanya tersenyum. Faris melihat dengan jelas senyum itu dan mulai menebak makna yang terkandung di dalam nya.

***

“Terima kasih ya Jen, udah mau menjemput ku dan Ibu di Bandara. Aku benar-benar tidak menyangka nya.” Kata Faris saat berjalan mengantar Jenny menuju mobil nya di halaman.

“Oh, iya. Dan terima kasih juga atas apa yang kamu lakukan selama ini sama aku.” Faris menambahkan.

“Melakukan apa ?” Tanya Jenny. “Kalau maksud kamu tentang obrolan kita di kafe saat itu, aku hanya benar-benar jengkel aja sama kamu. Kok ada mahkluk seperti itu sama perasaan nya. He he he.”

“Iya, kadang aku sendiri juga jengkel sama diriku sendiri.” Ucap Faris.

“Sama-sama.” Kata Jenny.

“Apa nya ?” Tanya Faris.

“Lho, sebelumnya kan kamu bilang terima kasih sama aku.” Jenny mengingatkan.

“Ah, iya. He he he.” Faris tersenyum. Sampai jumpa lagi, Jen.”

“Iya, Ris. Sampai jumpa di kantor.” Jenny mengulurkan tanggan nya. “Akhirnya aku bertemu dengan Faris yang baru. Benar-benar baru.”

Mereka berdua tersenyum, tanpa ada kata-kata lagi.

***

Sampai juga Faris di kamar nya. Tempat yang menjadi saksi bisu atas semua kegundahan sebelum nya. Ada banyak kenangan yang tersimpan. Masih sama persis saat ia tinggal kan beberapa hari yang lalu. Ia duduk di meja belajar yang menghadap jendela, membuka laci dan mengambil buku yang tersusun rapi puisi-puisi hasil karya nya.

Ia memandang satu persatu, sesekali membaca nya, sesaat mendongak kan kepala melihat keluar jendela dan merenungi apa yang telah dilakukan nya selama ini.

Tangan nya bergerak mengambil pensil. Mencoba menulis lagi sebuah puisi. Ia merasa, yang dibutuhkan saat ini bukanlah cinta pertama namun cinta sejati. Cinta pertama hanya langkah awal di suatu anak tangga untuk terus naik sampai menemui cinta sejati di atas sana. Di ujung tertinggi. Memberi kedewasaan dalam berpikir dan merelakan apa yang telah terjadi. Kali ini ia berpikir akan menjadi puisi terakhir mengenai perjalanan nya belajar sesuatu tentang cinta pertama. Puisi terakhir yang mengisahkan tentang sakit hati nya.

Sempat aku tersesat hingga hilang arah
Terjatuh sampai tak kurasakan sakitnya
Memandang hampa tentang masa depan
Apa yang kucari tak kunjung menjelma

Lelah aku merasakan pedih dalam nya hati
Alam bawah sadar selalu bawaku kembali
Berulang-ulang otak pikirkan yang tak pasti
Inilah saat paling tepat untuk mengakhiri

Puisi ini berisi tentang kata-kata perpisahan
Antara aku juga dengan indahnya kenangan
Masa lalu begitu menyenangkan bagi kita
Tapi tidak ada jalan lain selain melepas nya

Tidak kusangka aku telah berada di titik ini
Saat aku harus memilih pilihan yang sulit
Tinggal atau meninggalkanmu untuk pergi
Merelakan lalu memberimu puisi terakhir

Iya, ini adalah puisi terakhir ku untukmu kenangan
Kembalilah ke tempatmu berada dengan tenang
Aku selalu menghargai setiap momen indah mu
Biarlah kali ini aku menjalani semua ini tanpamu

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *