Sudut Pandang Sederhana

Kesederhanaan itu ternyata tidak selama nya indah. Baik, saya punya cerita, begini ya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah ditawari kakak laki-laki saya yang saat itu sedang stay di ausey. Kira-kira begini sms nya, “eh rul, kamu mau jam tangan ? Mau yang seperti apa ?”

Di tawari seperti itu saya sempat bingung karena kala itu saya belum terbiasa pakai jam tangan. Mikir nya masih ada jam yang ada di hape, jadi belum terlalu butuh jam yang di tangan. Spontan saja saya balas, “apa saja mas, pokok nya yang simpel.”

Saya merasa sesuatu yang simpel itu justru makin berkelas, punya nilai tersendiri.

Beberapa waktu kemudian, sampai lah jam tangan itu di hadapan saya. Dan ternyata benar-benar keren dan ya, sederhana. Elegan, menurut saya, tanpa ada jarum penunjuk menit maupun detik nya. Hanya ada titik-titik di dua lingkaran besar dan kecil yang menunjukkan mana titik menit (jarum) panjang dan (jarum) pendek nya.

Ketika saya pakai di tangan kiri saya, memang jadi tampak keren, futuristik, sampai bisa menarik perhatian beberapa kawan saya, “eh, bagus jam nya, beli di mana ya ?” Dan saya hanya tersenyum kecil. Sombong dikit.

Sangking simpel nya, saya sebenarnya tidak tahu jam itu menunjukkan waktu pukul berapa, butuh memahami beberapa saat baru bisa paham, itu pun sering salah nya. Apalagi kalau ada yang bertanya, ” eh, jam berapa sekarang ya ?” Saya hanya bilang, “bentar ya… ” Kalau sampai sekian saat saya belum bisa membaca jam saya itu, lalu saya jawab saja, “eh, sori ya, kayak nya batrei nya habis deh…”

Sejak saat itu, saya memakai nya bukan berdasarkan fungsi nya, melainkan karena futuristik nya. Jarang sekali atau bahkan tidak ada yang pakai jam seperti itu.

Hal ini jadi pelajaran buat saya, bahwa kalau ingin sesuatu harus jelas. Tidak bisa hanya bilang, “pokok nya yang simpel”. Nah, simpel nya orang kan beda-beda. Coba waktu itu saya bilang, “yang simpel aja mas, yang penting analog, jarum nya biasa aja gak perlu pakai ukiran segala, terus angka nya jangan yang romawi ya, kalau bisa yang tipis aja, ndak usah tebel tebel, strip nya dari kulit juga bagus mas, he he he”

Ini sudah di belikan minta nya macam-macam. Bukan begitu, tapi coba secara keseluruhan itu simpel menurutku, yang bisa buat kesan tersendiri saat memakai nya. Jadi, di balik kesederhanaan yang di tampil kan justru ada kerumitan tersendiri yang bisa buat sesuatu itu bakal punya nilai.

Keep it simple.

2 thoughts on “Sudut Pandang Sederhana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *