Sendiri ? pilihan konyol atau justru pembelajaran diri

foto dalam kesendirian - www.fahrur.web.id

Sendiri berarti tidak ada yang menemani.

Sendirian berarti “merasa” tidak ada yang menemani, meski di sekitar banyak orang yang hadir dengan hiruk pikuk nya masing-masing.

Pernah merasakan yang mana ? Saya, dua-dua nya. Anehnya kedua nya berfungsi dengan sangat “baik” bagi perkembangan pemikiran saya. Akan saya jelaskan “baik” ini maksudnya apa.Suatu ketika, di tahun awal saya punya anak. Istri dan anak saya sedang keperluan keluar kota. Saya tidak ikut. Praktis, saya sendiri di rumah. Ini pertama kalinya saya benar-benar sendiri dirumah untuk beberapa hari. Dan rasa nya hidup mulai tidak seperti biasanya.

Merasa bebas. Tidur malam. Ketiduran depan televisi. Telat sholat Subuh. Malas mandi. Tidak Sarapan. Cucian piring menumpuk. Baju banyak yang bau. Pekerjaan kantor tidak selesai. Tenang, bisa di selesaikan di rumah. Lembur sampai malam. Belum beli makan malam. Masak cepat, mi instan. Lebih banyak minum kopi dari biasanya. Lupa, telpon anak istri. Bangun siang.

Berlanjut selama tiga hari. Secara umum, terbengkalai.

Begini, adanya istri dan anak seringnya justru membuat hidup kita lebih teratur. Kalau saya ya. Terlebih karena saya jadi panutan alias contoh bagi yang ada di rumah. Saya merasa setiap waktu ada yang memperhatikan dan sedang merekam segala aktivitas dan ucapan untuk di simpan dalam otak mereka. Ya, mereka itu anak saya. Jadi, saya merasa “dipaksa” untuk berbuat lebih baik untuk memberikan rekaman yang bagus buat ingatan mereka kelak.

Ketika aktivitas baik kita belum jadi suatu kebiasaan, maka akan ada potensi untuk “break the rules” , itu yang saya rasakan ketika sendiri di rumah.

Bagusnya adalah saya sadar, menjadi teratur itu lebih nyaman dari pada tidak. Tentu ini relatif, berbeda tiap-tiap orang. Akhirnya, pada hari ke empat saya mulai lagi keteraturan itu dari hal-hal yang bisa saya kontrol. Dan ya, ternyata memang lebih baik.

Saya juga pernah sendirian, meskipun banyak orang di kantor, di rumah atau di lingkungan saya nongkrong. Saya merasa sendiri.

Banyaknya karena saya yang memilih itu. Menjadi satu dalam kesendirian. Biasanya kalau ada sesuatu yang perlu saya kerjakan, atau ketika menemukan hal baru yang memancing lebih banyak rasa ingin tahu saya. Tinggal menyiapkan segala keperluan, kopi di sebelah kanan, earphone terpasang, Lo-Fi Beats di mulai. Saya akan sendirian.

Implikasinya sama produktivitas.

Bukan lagi jaman mendayu-dayu, memikirkan banyak hal konyol yang berakhir tragis. Saya memikirkan tentang proses yang di lalui ini akan menghasilkan apa pada akhirnya. Pembelajaran saya tentang administrasi, penjualan, hingga karya tulis saya harapkan akan membuahkan hasil yang bermanfaat suatu saat nanti.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *