Tanpa Bayangan

Bergerak sedikit demi sedikit meninggalkan bayangan orang lain. Mencari walau tidak mudah, bayangan diri sendiri. Yang mungkin selama ini hilang entah kemana. Atau bisa jadi dia tak kuasa dan hanya memperhatikanku dari jauh. Sekedar ingin mencobaku sampai sejauh mana aku bertahan dalam kepalsuan. Walau ternyata dia lebih dekat dari yang aku kira.

Sejak lama tersihir oleh alunan pemikiran, persepsi, hingga emosi orang yang ku kira penting membuatku memberi standar baru yang tanpa sadar menggerus perlahan sesuatu yang nyata dalam diriku, yaitu aku. Bayanganku saja sampai sakit hati tak mau menyapa.

Seperti hal nya sudah terlalu lama tersesat dalam pusaran yang sama. Menahun. Beberapa kali jatuh di lubang yang sama. Membuat ku menoleh jauh ke belakang. Sudah tidak lagi bisa tengok kanan kiri karena kaca spionku sudah rusak. Aku yang merusaknya, ketika yang aku anggap penting kala itu adalah jalan yang ada di depan saja. Untung saja masih ada rem yang membantu ku menepi dan berhenti sejenak. Berpikir. Apa yang telah terjadi.

Saat itulah, aku sendiri dan payah. Melewatkan banyak hal kecil yang berharga dan berpengaruh dalam hidupku justru. Aku mungkin secara sadar melupakan orang-orang yang membantuku dalam proses perjalanan ini. Orang yang memberiku minum ketika haus melanda. Orang yang tahu benar aku sedang butuh tolak angin untuk otakku yang tidak cukup pintar mencerna logika. Orang yang dengan baik hati mempersilahkan rumahnya untukku numpang boker, buang kotoran ketika perut sudah tidak mau di ajak kompromi. Merekalah yang melihatku apa ada nya. Menerima ku yang tidak lah mudah. Terlewatkan begitu saja.

Harus berapa kali lagi aku menyesal. Saatnya aku turun. Memilih untuk berjalan kaki saja. Menyapa mereka lagi. Menyediakan waktu yang cukup untuk berbincang, tertawa, bercerita, menangis. Aku memutuskan untuk bersama bayanganku sendiri. Yang memang tidak punya kecepatan yang sama dengan bayangan yang sempat ku kejar. Bukankah ini bukan tentang perlombaan. Ini soal prioritas yang berbeda. Aku sudah cukup bahagia dengan apa yang ada. Kalaupun aku ingin sesuatu yang ingin di raih, biarlah itu dengan jadwal nya sendiri. Ini yang aku ingini.

Menjadi sesuatu, bagi diri ku sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *