Memulai dari titik nol

“Jika ini memang salahku, tolong jelaskan dimana salahnya ?” pintaku memohon. Wajahku yang sebelumnya merah padam penuh amarah, secara seketika luluh ketika melihatnya menangis.

“Salahmu adalah…membiarkan hatimu menjadi milikku…” lirih ia berkata dengan tajam menatap mataku dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Bersungguh-sungguh.

Ketika waktu telah memberi jawabannya, apa yang di harapkan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Bagaimana dengan perasaan ini ? tentang kepercayaan ? saling mengasihi ? apa harus seperti ini. Menyakitkan.

Aku berjalan sendiri tertatih mengarungi trotoar jalan malam itu, malam dini hari yang dingin dan terasa sunyi di hatinya. Rintihan demi rintihan terngiang selalu di benakku seolah tidak memperkenankanku istirahat barang sejenak. Aku terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni, yang ada hanya desiran ombak pantai yang bergemuruh mencoba mendinginkan suasana yang ada.

Kini aku sudah di kamar tidur. Berhenti sejenak dan memandangi langit-langit kamarnya. Membelalak mataku dalam lamunan tiada henti, mencari-cari sesuatu yang tertinggal, masa lalu yang sekarang tercabik. Satu hal yang dapat menyenangkan hatinya adalah kenangan indah bersamanya.

Tiba-tiba pengingat di telepon genggamku berdering. Perlahan ku baca dan kembali kesadaranku pulih bahwa besok adalah hari pertama masuk kerja. Aku segera menata lagi puing-puing hati ini.

“Aku harus istirahat untuk menyambut besok..”, batinku. Disaat itulah aku memutuskan untuk bertahan, ada keyakinan di hatiku ketika semua hal ini datang melanda bahwa inilah saat yang tepat untuk belajar berdiri kembali. Dengan kakiku sendiri. Memulai kembali.

Memulai dari titik nol.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *